Jelajahi Museum Surabaya Gedung Siola Tunjungan

Museum Surabaya Gedung Siola

Sejarah Masa Lampau Museum Surabaya Siola

Coba ingat kembali, kapan terakhir kali Anda berkunjung ke museum? Tidak perlu malu jika jawabannya sekitar 10 atau 15 tahun yang lalu. Ya, masyarakat di Indonesia memang belum memiliki tradisi menjadikan museum sebagai tempat wisata atau penghibur lelah kala akhir pekan. Nah, anggapan tersebut berusaha didobrak oleh Museum Surabaya Siola. Ada keunikan yang membuat Anda dijamin betah berlama-lama di museum ber-alamat Jl. Tunjungan No.1, Genteng, Kota SBY, Jawa Timur ini.

Museum Surabaya Siola unik! Mengapa dibilang unik? Karena museum yang terletak di Jalan Tunjungan Surabaya ini (di sudut bertemunya Jalan Tunjungan dan Jalan Genteng Kali), awalnya dibangun bukan sebagai museum. Tapi, dibangun sebagai salah satu gedung sentra bisnis sejak dari zaman kolonial. Wow! Jadi usia gedung Siola, lokasi Museum Surabaya ini berada sudah sangat tua. Melintasi tiga masa, yakni masa kolonial Belanda atau Inggris, kemudian penjajahan Jepang, hingga masa kemerdekaan.

Pada masa kolonial Belanda atau Inggris, gedung tersebut digunakan sebagai pusat toko serba ada. Pun ketika Jepang menjajah Indonesia, gedung Siola tidak bergeser fungsinya sebagai toko yang menjual koper merk ternama kala itu.

Sejarah Gedung Siola, Tempat Museum Surabaya

Mengulas sejarah singkat Museum di Surabaya ini tentunya dimulai dari sejarah gedung siola, gedung tempat Museum Surabaya berada yang sekarang kita kenal. Awalnya gedung ini bernama Whiteaway Laidlaw & Co. Didirikan pada tahun 1877 oleh seorang yang bernama Robert Laidlaw, pemodal asing asal Inggris dan pemilik bank bernama Whiteaway Laidlaw Bank. Robert Laidlaw menyulap sebidang tanah di pojok jalan Jl Tunjungan dan Gentengkali menjadi pusat grosir dan eceren paling lengkap. Tidak lama setelah pusat grosir ini dibangun, tepatnya tahun 1880 terjadi pembongkaran tembok benteng kota membuat Tunjungan berkembang pesat dan menjadi sentra perdagangan baru di wilayah selatan.

Sejarah Siola Museum Surabaya

Gedung Siola masa lampau

Tahun 1943 saat terjadi pergantian penjajahan dari bangsa Belanda ke bangsa Jepang, Whiteaway Laidlaw & Co diambil alih oleh pengusaha Jepang dan berganti nama menjadi Chiyoda. Pergantian pemilik tidak merubah fungsi toko, tetap sebagai pusat grosir tas koper dan sepatu, hanya penjualan produk tekstil saja yang dikurangi.

Sejarah Toko Chiyoda tidak panjang, saat Jepang kalah dan angkat kaki dari Indonesia, toko ini tutup. Saat masa revolusi (saat Inggris ingin menjajah Indonesia kembali), sejarah mencatat bahwa gedung siola merupakan tempat jibaku arek suroboyo dengan menjatuhkan diri sambil membawa bom disetiap tank Inggris yang masuk jalan Tunjungan. Pada pertempuran 10 November 1945, gedung siola dijadikan tempat para pejuang dalam menyusun strategi perang. Sampai akhirnya gedung ini dibom tentara Inggris hingga yang tersisa hanya tembok luar.

Sejarah Gedung Siola berlanjut, gedung ini beralih tangan ke beberapa pengusaha lokal pada tahun 1960-an, yang kemudian mengabadikan akronim nama mereka sebagai nama gedung tersebut, yakni SIOLA. Nama SIOLA singkatan dari nama Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Ang. Nama ini ternyata membawa hoki tersendiri, karena Gedung Siola pun menjelma sebagai pusat perbelanjaan terbesar atau mall pertama di Surabaya, yang saat ini menjadi pusat layanan masyarakat dan museum Surabaya.

Nyaris selama tiga dekade, Gedung Siola ramai dengan riuh rendahnya aktivitas perbelanjaan. Memasuki tahun 1998, kala perekonomian Indonesia terpuruk ke titik nadirnya (krisis moneter), berimbas pada menyusutnya aktivitas jual beli di gedung tersebut. Gedung Siola pun pada tahun yang sama dinyatakan tutup.

Sejarah Museum Surabaya Siola

Sejarah Museum Surabaya dimulai dari inisiatif walikota Surabaya. Adalah Walikota Risma (Tri Rismaharini) yang berinisiatif menghidupkan kembali pamor Gedung Siola yang dulu pernah jaya. Pada pertengahan tahun 2015, Risma secara resmi membuka kembali gedung tersebut. Tapi, dibuka tidak sebagai pusat perbelanjaan sebagaimana dulu gedung tersebut difungsikan. Risma lebih memilih menjadikan Gedung Siola sebagai tempat yang menyimpan sejarah Kota Surabaya mulai dari masa kolonial, awal kemerdekaan, hingga sekarang. Selain sebagai Museum Surabaya, Gedung Siola juga dijadikan sebagai pusat layanan masyarakat yang dikenal dengan sebutan Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap (UPTSA) kota Surabaya.

Museum Surabaya Gedung Siola

foto: IG @raffirizkiillahi

Keputusan Risma ini amatlah tepat. Menjadikan Gedung Siola sebagai salah satu museum di Surabaya adalah investasi bagi masa depan kota ini. Daripada menjadikannya kembali sebagai pusat perbelanjaan atau mall yang keberadaannya kini menyesaki Kota Surabaya, kehadiran museum yang menyimpan sejarah Surabaya jauh lebih berfaedah.

Tidak sekadar mengajak orang-orang untuk menghamburkan uangnya dan menyuburkan pola hidup konsumtif ketika mengunjungi mall/pusat perbelanjaan, kehadiran Gedung Siola sebagai museum akan membuat siapa saja menjadi terbuka wawasannya. Karena museum mengajarkan bahwa setiap masa yang terlewat, ada nilai pembelajaran tentang kehidupan yang bisa dipetik generasi selanjutnya. Mempelajari masa lalu bukan semata mengetahui rangkaian peristiwa yang telah terjadi, tapi bagaimana peristiwa dari masa lalu itu sebagai petunjuk mewarnai masa sekarang dengan lebih beradab dan bermartabat.

Museum Siola, Kapsul Sejarah Kota Surabaya

Menjadikan museum sebagai wisata edukasi adalah tantangan pelik yang tidak setiap pengelola museum berhasil melakukannya. Banyak museum di Indonesia nasibnya berakhir nyaris serupa dengan benda-benda yang ia pajang, yakni menjadi tua, lapuk, dan akhirnya terlupakan.

Nah, dari sekian banyak museum yang berakhir tragis, Museum Surabaya Siola bukanlah salah satu di antaranya. Sering dikunjungi dan memperoleh apresiasi dari banyak orang, museum Siola pun menjadi kebanggaan warga Surabaya. Jika di kota lain, banyak museum yang terbengkalai pengelolaannya, Museum Surabaya sebaliknya. Mendapat limpahan dana langsung dari Pemerintah Kota Surabaya, menjadi museum tersebut bisa memoles dirinya dengan tampilan spektakuler, dan menyimpan atau mengumpulkan koleksi benda-benda bersejarah tanpa dihinggapi kekhawatiran terkait dana operasional.

Hal ini membuat Museum Surabaya Siola seakan menjadi kapsul waktu sejarah Kota Surabaya. Masa silam Surabaya yang penuh dengan peristiwa heroik, seakan tergambar jelas dengan keberadaan benda-benda bersejarah pada masanya. Seperti replika biola dari maestro legendaris Indonesia, WR. Soepratman. Meski WR. Soepratman lahir di Jakarta, tapi beliau meninggal dan dikebumikan di Kota Surabaya. Dan sebagai wujud penghormatan terhadapnya, replika biolanya dihadirkan di museum ini.

Replika Biola WR Soepratman

foto: IG @museumsurabayasiola

Atau jika hendak mundur lebih ke belakang, yakni pada masa kolonial Belanda/Inggris dan pendudukan Jepang, banyak terserak barang-barang yang menghidupkan kembali kenangan pada masa-masa tersebut. Benda-benda seperti dokumen tua dan bersejarah, berpadu dengan mobil antik atau angkutan kuno yang pada masanya sempat berjaya. Belum lagi dengan peralatan sehari-hari yang boleh jadi pada masanya dianggap biasa saja, tapi ketika ia dilihat secara langsung pada masa sekarang, tentunya menimbulkan kesan luar biasa. Seakan melakukan perjalanan waktu dari masa sekarang ke masa lampau.

Tujuan Pendirian Museum Surabaya Siola

Walikota Tri Rismaharini berharap Museum Surabaya Siola akan menjadi sebuah wahana sejarah perjalanan Kota Surabaya dengan berbagai dinamika didalamnya. Itu sebabnya konsep Museum Kota Surabaya harus matang dan profesional karena memiliki tujuan yang panjang di masa yang akan datang. Tujuan pendiriaan Museum Surabaya ini ibarat penyambung “balung pisah” atau “missing link” agar warga kota tahu dan mengerti perjalanan Kota Surabaya dan pada gilirannya dapat mengapresiasi masa lalunya untuk membangun masa depan yang berjati diri.

Walikota Surabaya Sejak 1916

foto: IG @raffirizkiillahi

Tujuan pendirian Museum Surabaya berbeda dengan museum-museum lain di kota Surabaya yang bersifat parsial. Pendirian museumnya hanya terkait dengan riwayat tempat yang digunakan, seperti Museum House of Sampoerna terkait dengan riwayat industri rokoknya, atau Museum Tugu Pahlawan yang terkait dengan sejarah Sepuluh Nopember.

Koleksi Museum Surabaya

Agar semakin diminati oleh pengunjung, Museum Surabaya Siola berupaya terus menambah koleksinya. Meski saat ini telah memiliki lebih dari 1.000 koleksi, tidak membuat pengelola museum berpuas diri. Berbagai barang sejarah yang dianggap berperan penting dalam sejarah Kota Surabaya, terus-menerus dikumpulkan. Suatu usaha yang ambisius, karena mengumpulkan benda bersejarah mulai dari walikota pertama Surabaya, yakni A Meyroos, hingga walikota saat ini, Tri Rismaharini, bukan perkara gampang. Usaha luar biasa sukar dan layak mendapat jempol. Salut!

Baca juga artikel Monumen Tugu Pahlawan Surabaya berketinggian 41,5 meter berbentuk menyerupai paku terbalik, dimana dibagian bawah tanahnya dikedalaman 7 meter dibangun museum perjuangan sepuluh nopember yang berisi berbagai tampilan di masa perjuangan.Β  – #BanggaSurabaya

Share ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!