Gereja Kepanjen, Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria

Arsitektur Gereja Kepanjen Surabaya

Masyarakat Surabaya khususnya umat Katolik pasti sudah akrab dengan nama Gereja Kepanjen. Gereja ini memiliki nama asli Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, namun karena lokasinya berada di Jalan Kepanjen No.4-6 Surabaya maka namanya pun identik dengan nama jalan dimana gereja ini berada.

Gereja Kepanjen Dan Gereja Tertua di Surabaya

Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria merupakan salah satu gereja tua di Surabaya. Bangunan gereja ini berada di samping gedung SMA Katolik Frateran. Sehingga tempat ini sering pula dijadikan lokasi beribadah oleh para siswa dan juga staf pengajar di SMA tersebut. Gereja Kepanjen ini sudah berdiri sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Dimana gereja ini sudah berdiri sejak tahun 1899 dan dirancang oleh seorang arsitek yang bernama W. Westmaas yang berasal dari Semarang. Pembangunan gereja ini tidak memakan waktu lama, hanya membutuhkan waktu setahun untuk diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1900.

Gereja Pertama di jalan Roomsche Kerkstraat

Gereja Pertama di jalan Roomsche Kerkstraat – foto dokumen Tropenmuseum

Meski sudah cukup tua usia Gereja Kepanjen, namun Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan ini bukanlah gereja tertua di Surabaya. Sebab, sebelumnya sudah ada gereja yang lebih dahulu berdiri sejak tahun 1822. Gereja tertua yang menjadi gereja pertama di Surabaya ini, memiliki arsitektur khas Eropa dan berada di Roomsche Kerkstraat atau sekarang bernama Jalan Cendrawasih. Gereja ini dibuat sebagai persembahan kepada St. Perawan Maria.

Sejarah Gereja Pertama Di Surabaya

Sejarah awal berdirinya gereja pertama di Surabaya ini diawali kedatangan dua orang pastor yaitu Hendricus Waanders dan Philipus Wedding. Kemudian, pastor Wedding meneruskan perjalanan ke Batavia sedangan pastor Hendricus memutuskan menetap di Surabaya. Selama di Surabaya Pastor Hendricus menggunakan rumahnya sebagai tempat pelayanan umat, hingga sampai didirikannya gedung gereja pada tahun 1822 tersebut. Dari data sejarah ini, maka bisa disimpulkan bahwa pelayanan umat Katolik di Surabaya sudah berjalan sejak tahun 1810.

Pada tahun 1815 Pastor Hendrikus Waanders Pr. mendirikan stasi yang pertama di Surabaya, merupakan stasi kelima di Indonesia setelah Jakarta/Batavia – Semarang (23 Desember 1808) – Ambarawa – Yogyakarta. Sampai pada tahun 1811 ada 7 orang pastor yang berkarya di Indonesia, yaitu 2 pastor di Batavia, 2 pastor di Surabaya, 2 pastor di Semarang dan 1 pastor di Makasar.

Pada tahun 1815, stasi Surabaya dijadikan Paroki. Tahun 1821 timbul wabah kolera yang menyerang pulau Jawa. Peristiwa ini merupakan kesempatan yang baik bagi Pastor Waanders dan para misionaris lain untuk menunjukkan keperwiraannya. Akibatnya Pastor Waanders dikagumi dan dikenal oleh banyak orang. Oleh sebab itu setelah selama 7 tahun stasi Surabaya berdiri tanpa memiliki gedung gereja permanen, maka Pastor Waanders memberanikan diri untuk membangun gedung gereja pertama dan diresmikan pada tanggal 22 Maret 1822, terletak di tikungan Roomsche Kerkstraat dan Komedienplein (kira-kira di Jl. Cenderawasih dan Jl. Merak). Itulah gereja yang pertama di Jawa Timur, gereja yang indah, agung, namun sederhana.

Gereja Kepanjen Surabaya

foto : IG @adieast

Seiring perkembangan umat Katolik di Surabaya, kemudian muncullah ide untuk membuat gereja baru guna menampung umat kala beribadat. Dan didirikanlah Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria di daerah Kepanjen tersebut, hingga dikenal dengan nama Gereja Kepanjen. Dimana pada masa itu, penjajah Belanda masih menguasai bangsa Indonesia dan mereka banyak menggunakan gereja untuk tempat beribadah para tentara Belanda yang beragama Katolik tersebut.

Sejarah Perkembangan Gereja Kepanjen

Sejak tahun 1923, perkembangan Gereja Kepanjen atau Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria ini, mulai dikelola oleh Pastor Congregatio Misionaris atau sering disingkat CM. Pastor Congregatio ini mulai meneruskan serta mengembangkan semua karya yang dibuat oleh para misionaris sebelumnya. Dan dalam perkembangannya, gereja ini semakin meluas dan pada saat ini sudah berfungsi sebagai Gereja Keuskupan Surabaya sampai saat ini.

Ketika Indonesia sudah berhasil meraih kemerdekaannya, bangunan Gereja Kepanjen sempat hancur. Sebab, gereja ini terkena serangan bom dan terbakar habis yang menjadikannya tidak bisa berfungsi sebagai tempat ibadah. Akhirnya, dilakukanlah renovasi ketika situasi mulai kondusif. Proses renovasi ini dilakukan sejak tahun 1949-1950 dengan dipimpin oleh Paston P.A. Bastiansen CM. Arsitek yang merancang gedung gereja saat direnovasi saat itu adalah Henri Estourgie.

Arsitektur Gereja Kepanjen Surabaya

foto : IG @tanusd68

Dalam renovasi tersebut, Gereja Kepanjen tetap mempertahankan arsitektur sebelum gereja tersebut hancur. Hanya saja dalam pembangunan tersebut tidak menggunakan menara. Pada beberapa bagian seperti di kaca jendela, dirancang dengan konsep polos. Perubahan dilakukan dengan menambahkan ruang Sakristi sebagai tempat menyimpan benda-benda suci serta tempat para imam berikut dengan petugas lain untuk bersiap sebelum dilakukannya prosesi Misa. Sakristi ini dibangun di bagian samping kanan dan kiri panti Imam. Penambahan juga dilakukan dengan membuat ruang pengakuan dosa yang terletak di bagain sayap kanan serta kiri.

Proses renovasi Gereja Kepanjen berikutnya dilakukan pada tahun 1960 dengan melakukan renovasi kecil, ketika gereja dipimpin oleh Paston H.J.G Veel CM. Proses renovasi dilakukan dengan mengganti kaca jendela yang sebelumnya polos diganti dengan kaca jendela karya Jaques Verheyen. Dimana pada kaca yang baru ini dibuat dengan desain gambar karya Bruder Coendraad, Ir. Ang Koen Le serta Muljono Wirjosastro. Dalam proses renovasi kedua ini dipimpin oleh Tjoe Tiang Djien serta ahli warna Ibu Dr. Kho Hong Giem.

Renovasi ketiga dilakukan pada tahun 1996, yaitu melakukan renovasi pemasangan menara. Dimana menara yang dahulu pernah ada di samping kanand an kiri masuk pintu utama gereja, kembali dibangun. Setiap menara memiliki ketinggian 15 meter, ditambah dengan salib bertinggi 3,75 meter. Masih terdapat pula hiasan ayam jago yang memiliki ketinggian 3,50 meter. Bahan yang digunakan untuk membuat salib dan ayam jago, semuanya berbahan dasar stainless steel.

Prestasi Gereja Kepanjen Surabaya

Bangunan Gereja Kepanjen

foto : IG @yosefdianpr

Sebagai salah satu bangunan yang dibangun pada masa penjajahan, bangunan Gereja Kepanjen ini dinyatakan sebagai salah satu bangunan yang harus dilindungi. Hal ini sesuai dengan SK Walikota Surabaya Np.188//45/004/402.1.04.1998, mengenai penetapan gereja ini sebagai salah satu bangunan cagar budaya.

Selain itu, bangunan ini juga memiliki pengakuan atas keindahan arstitektur yang digunakan. Dimana Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria ini memperoleh penghargaan dari Komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya pada 1996. – #BanggaSurabaya

Share ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!